[CLOSE]
  • Rabu, 16 Jun 2021
  •  

Lagi Viral, Inilah Risikorisiko yang Harus Indonesia Hadapi Jika The Fed Kerek Suku Bunga Tahun Depan

Lagi Viral, Inilah Risikorisiko yang Harus Indonesia Hadapi Jika The Fed Kerek Suku Bunga Tahun Depan

Lagi Viral, Inilah Risikorisiko yang Harus Indonesia Hadapi Jika The Fed Kerek Suku Bunga Tahun Depan (Tribun)

UmiCache.com - Laporan Reporter Kontan, Bidara Pink

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -   Indonesia harus bersiap menghadapi berbagai risiko dan konsekuensi jika Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve mengerek suku bunga acuannya tahun depan.

The Fed saat ini diperkirakan akan meningkatkan suku bunga tahun depan. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menjabarkan beberapa efek yang akan dirasakan oleh Indonesia saat adanya pengetatan moneter negara Paman Sam tersebut.

Pertama, adanya risiko peningkatan yield SBN jika tapering ini lebih cepat dari perkiraan.

Namun, Faisal melihat, sebenarnya ruang untuk peningkatan yield SBN masih ada karena asumsi APBN 2021, yield SBN tenor 10 tahun sebesar 7,29% atau masih di atas yield saat ini.

“Sehingga, sebenarnya manajemen fiskal kita dalam hal pembiayaan saat ini masih cukup mumpuni untuk itu. Selain itu, lembaga pemeringkat dunia juga menilai Indonesia masih tergolong investment grade dengan mayoritas outlook stabil,” ujar Faisal kepada Kontan.co.id, Selasa (1/6/2021).

Kedua, adanya risiko aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun, hal ini dapat diminimalisir dengan mengurang potensi pelebaran current account deficit (CAD) dengan mulai meningkatkan substitusi impor.

Tak hanya itu, Indonesia juga dapat meningkatkan proporsi investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) karena outflow yang terjadi lebih ke investasi portofolio yang sifatnya jangka pendek (hot money).

“Jadi, dengan membuat investasi langsung lebih dominan di neraca transaksi finansial, maka risiko dari tapering ke Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dapat diminimalkan,” tambahnya.

Faisal lalu mengingatkan, yang menjadi kekhawatiran sebenarnya adalah saat kenaikan suku bunga The Fed atau tapering terjadi, tetapi pemulihan ekonomi domestik masih belum optimal.

Pasalnya, peningkatan suku bunga The Fed ini menjadi salah satu faktor yang mendasari naiknya suku bunga acuan BI. Padahal, pemulihan ekonomi butuh suku bunga yang relatif rendah guna memicu kegiatan investasi.

Guna makin mengecilkan risiko secara keseluruhan, Indonesia harus cepat mengejar dan menggenjot pemulihan ekonomi.

Pemerintah dan BI perlu menghadapi risiko dengan bahu membahu mempercepat proses pemulihan ekonomi dengan bauran kebijakan dan progres vaksinasi.

Semakin cepat Indonesia pulih, semakin menarik juga Indonesia untuk menjadi tujuan investasi. Selain itu, dengan sendirinya penerimaan negara juga dapat meningkat sehingga kebutuhan pembiayaan fiskal berkurang.

Kabar baiknya, bila mengikuti pernyataan The Fed, sekarang bank sentral AS masih akan cenderung dovish terkait kebijakannya sehingga kemungkinan BI juga masih akan menjaga suku bunga rendah di tahun ini.

“Kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga di akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023. Masih dapat berubah sesuai perkembangan kondisi dan statement The Fed di Juni ini."

"Biasanya di setiap akhir kuartal The Fed akan keluarkan proyeksi makronya. Jika berubah menjadi lebih optimis terkait ekonomi AS, maka dapat lebih cepat,” tandasnya.

Artikel ini tayang di Kontan dengan judul Ini risiko yang akan dihadapi Indonesia saat terjadi pengetatan moneter di AS



Total dibaca: 9x | Berikan Komentar!


Riko Satria
Penulis : Riko Satria
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (0)
* Komentar telah dinonaktifkan untuk artikel ini *
Hosting Unlimited Indonesia