[CLOSE]
  • Rabu, 12 May 2021
  •  

Tidak Disangka, SaudiIran Gelar Negosiasi Rahasia, Pangeran MBS Ingin 'Bersahabat' dengan Teheran

Tidak Disangka, SaudiIran Gelar Negosiasi Rahasia, Pangeran MBS Ingin 'Bersahabat' dengan Teheran

Tidak Disangka, SaudiIran Gelar Negosiasi Rahasia, Pangeran MBS Ingin 'Bersahabat' dengan Teheran (Tribun)

UmiCache.com - Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman  telah memberikan tanda bersahabat terhadap musuh bebuyutan kerajaan, Iran.

Ia mengatakan tengah mencari hubungan baik setelah muncul laporan saingan tersebut mengadakan pembicaraan rahasia baru-baru ini di Baghdad.

Kedua negara terlibat persaingan sengit memperebutkan pengaruh kawasan sejak 2016, setelah pengunjuk rasa Iran menggeruduk kedutaan Saudi di Teheran.

Aksi massa terjadi setelah kerajaan Saudi mengeksekusi seorang ulama Syiah yang dihormati di wilayah Arab.

"Iran adalah negara tetangga, dan semua yang kami cita-citakan adalah hubungan yang baik dan khusus dengan Iran," kata Mohammed bin Salman (MBS) yang disiarkan Middle East Broadcasting Center, Rabu (28/4/2021) WIB.

Kutipan wawancara itu disitir laman berita Aljazeera.com. “Kami tidak ingin situasi Iran menjadi sulit. Sebaliknya, kami ingin Iran tumbuh… dan mendorong kawasan dan dunia menuju kemakmuran,” katanya.

MBS menambahkan Riyadh bekerja dengan mitra regional dan global untuk menemukan solusi atas apa yang disebutnya perilaku negatif Teheran.

Ia menyinggung program nuklir Teheran serta dukungan negara itu untuk proksi mereka di seluruh Timur Tengah.

"Kami berharap dapat mengatasinya dan membangun hubungan yang baik dan positif dengan Iran yang akan menguntungkan semua orang," kata Putra Mahkota dalam wawancara 90 menit itu.

Pernyataan itu menandai perubahan nada dan sikapnya dibandingkan wawancara sebelumnya. Saat itu MBS mengecam Teheran, menuduhnya memicu ketidakamanan regional.

Pangeran tidak menyebutkan negosiasi apapun dengan Iran. Pembicaraan di Baghdad, yang difasilitasi Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, tetap dirahasiakan sampai Financial Times melaporkan pertemuan pertama telah diadakan pada 9 April.

Seorang pejabat pemerintah Irak mengkonfirmasi pembicaraan itu dengan kantor berita AFP, sementara seorang diplomat Barat mengatakan dia telah diberi pengarahan sebelumnya tentang upaya menengahi hubungan yang lebih baik dan mengurangi ketegangan (Saudi dan Iran).

Riyadh secara resmi membantah pembicaraan di media yang didukung pemerintah, sementara Teheran belum berkomentar. Pejabat Iran hanya menegaskan pihaknya selalu menyambut dialog dengan Arab Saudi.

Inisiatif ini muncul pada saat dinamika kekuatan bergeser ketika Presiden AS Joe Biden berusaha menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang compang-camping yang ditinggalkan Donald Trump.

Arab Saudi dan Iran telah mendukung sisi berlawanan dari beberapa konflik regional dari Suriah hingga Yaman, di mana koalisi yang dipimpin Saudi memerangi pemberontak Houthi.

Mengkalibrasi Ulang Hubungan Bilateral

Pangeran Mohammed juga mengatakan Riyadh dan Washington tetap menjadi mitra strategis meskipun ada ketidaksepakatan tentang masalah tertentu.

Tetapi juga menekankan keengganan negaranya untuk menerima tekanan atau campur tangan dalam urusan internalnya.

"Kami lebih dari 90 persen setuju dengan pemerintahan Biden dalam hal kepentingan Saudi dan AS dan kami bekerja untuk memperkuat kepentingan ini," kata MBS.

"Hal-hal yang tidak kami sepakati mewakili kurang dari 10 persen dan kami sedang bekerja untuk menemukan solusi dan pemahaman ... Tidak ada keraguan bahwa Amerika Serikat adalah mitra strategis," tambahnya.

Biden telah menjelaskan pemerintahannya sedang mengkalibrasi ulang hubungan AS dengan Arab Saudi setelah empat tahun masa hangat dengan pemerintahan Trump.

Di antara keputusan pertama Biden adalah memerintahkan diakhirinya dukungan AS untuk perang yang dipimpin Saudi di Yaman.

Biden juga merilis laporan intelijen AS kasus yang melibatkan Putra Mahkota dalam pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018. Tetapi tidak memberikan hukuman langsung kepadanya.

Laporan tersebut memperkuat temuan investigasi (PDF) yang berakhir pada Juni 2019 oleh mantan pelapor khusus PBB terkait pembunuhan di luar hukum, Agnes Callamard.

Penyelidik PBB menemukan "bukti kredibel yang cukup" tentang tanggung jawab MBS dalam pembunuhan warga AS yang dianggap pembangkang Saudi.

Pejabat Saudi telah berulang kali menolak tuduhan MBS terlibat pembunuhan Khashoggi. Mereka menyalahkan pembunuhan dilakukan sekelompok orang lewat operasi ilegal.

Negosiasi Houthi Masih Buntu 

Wawancara itu disiarkan pada hari yang sama ketika terjadi peristiwa kapal sarat bahan peledak mengincar pelabuhan Yanbu di Saudi.

Pemberontak Houthi Yaman, yang bersekutu dengan Iran, telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan di masa lalu terhadap target minyak Saudi.

Yaman telah dicengkeram perang enam tahun yang brutal, dan mengalami pemboman ekstensif oleh koalisi pimpinan Saudi yang memerangi Houthi.

Sejak menjabat pada Januari, Biden telah menjadikan Yaman sebagai prioritas dan fokus pada menghidupkan kembali upaya PBB yang terhenti untuk mengakhiri konflik.

Secara luas peperangan di Yaman ini dipandang sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran.

Pangeran Mohammed mengatakan tidak ada negara yang menginginkan milisi bersenjata di sepanjang perbatasannya dan mendesak Houthi untuk duduk di meja perundingan.

MBS saat ini secara de facto memimpin Kerajaan Saudi. Ia menjabat menteri pertahanan, kepala dewan tertinggi untuk perusahaan minyak milik negara Saudi Aramco.

Ia juga pemimpin Dana Investasi Publik, mesin utama keuangan kerajaan yang ditugaskan untuk menjalankan upaya diversifikasi bisnis.

Wawancara yang lebih lunak itu menandai ulang tahun kelima Visi 2030, sebuah program Saudi yang diinisiasi MBS.

Program itu dimaksudkan memodernisasi kerajaan, menyapih ekonomi dari pendapatan minyak, dan memikat investasi asing untuk membangun sektor baru dan memacu penciptaan lapangan kerja.

Pangeran Mohammed berkata sebelum Raja Salman mengambil alih kekuasaan situasi negara lemah, dengan kementerian yang tersebar dan tidak ada kebijakan publik.

“Tidak ada yang akan dicapai tanpa posisi negara yang kuat yang menarik kebijakan dan menetapkan strategi dan menyelaraskannya dengan entitas yang berbeda,” katanya.

Riyadh bulan lalu mengajukan proposal gencatan senjata nasional untuk Yaman, tetapi Houthi menolaknya dengan mengatakan blokade Saudi di pelabuhan utama harus dicabut terlebih dahulu.

Pangeran Mohammed, yang menjadi Putra Mahkota sejak 2017 dalam kudeta internal yang menggulingkan putra mahkota sebelumnya, telah mengkonsolidasikan kekuasaan secara kokoh.(Tribunnews.com/Aljazeera/xna)



Total dibaca: 8x | Berikan Komentar!


Bambang Pamungkas
Penulis : Bambang Pamungkas
Tech Enthusiast

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (1)
Redo Prakoso
29 Apr 2021, 10:46 WIB

artikel Tidak Disangka, SaudiIran Gelar Negosiasi Rahasia, Pangeran MBS Ingin 'Bersahabat' dengan Teheran sangat bermanfaat :)

* Komentar telah dinonaktifkan untuk artikel ini *
Hosting Unlimited Indonesia