[CLOSE]
  • Jumat, 23 Apr 2021
  •  

Tahukah Kamu? Kisah Heroik Polisi India: Lintasi Batas Negara secara Ilegal demi Selamatkan Warga Sipil

Tahukah Kamu? Kisah Heroik Polisi India: Lintasi Batas Negara secara Ilegal demi Selamatkan Warga Sipil

Tahukah Kamu? Kisah Heroik Polisi India: Lintasi Batas Negara secara Ilegal demi Selamatkan Warga Sipil (Kompas)

UmiCache.com - Seorang polisi India dinobatkan sebagai pahlawan karena berani melewati batas negara tanpa izin demi menyelamatkan warga yang terdampak kerusuhan.

Kerusuhan akibat pro-kontra UU Kewarganegaraan India ini mulai pecah pada Minggu (23/2/2020) yang menewaskan 39 orang dan melukai 200 orang.

BBC mengisahkan, ada seorang polisi di negara bagian Uttar Pradesh yang berpatroli di pos pemeriksaan perbatasan pada 25 Februari.

Seketika, dia mendengar ada suara tembakan dari Karala Nagar di Delhi, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari tempatnya berdiri.

Polisi bernama Neeraj Jadaun itu melihat gerombolan 40-50 orang membakar kendaraan. Salah satu dari mereka melempari sebuah rumah dengan bom bensin.

Saat itu juga Jadaun meninggalkan protokol polisi tradisional, dan membuat keputusan sepersekian detik untuk melintasi perbatasam negara bagian ke Delhi.

Sebagai tambahan informasi, di India petugas kepolisian perlu izin tertulis untuk melintasi perbatasan negara.

"Saya memutuskan menyeberang. Saya rela pergi sendirian meski sadar itu berbahaya, dan fakta bahwa (wilayah) itu di luar yurisdiksi saya. Itu adalah 15 detik paling menakutkan dalam hidup saya," tutur Jadaun pada BBC.

"Syukurlah, tim mengikuti saya, dan senior saya juga mendukung saat saya memberitahu mereka kemudian," lanjutnya.

Jadaun juga menceritakan tindakan yang dilakukannya berbahaya karena timnya kalah jumlah dan para perusuh dibekali senjata. Dia bersama tim awalnya coba bernegosiasi, tapi gagal.

Tim Jadaun lalu memperingatkan bahwa polisi akan melepaskan tembakan. Massa sempat mundur, tetapi tak lama kemudian melempari tim Jadaun dengan batu.

"Kami juga mendengar suara tembakan," ucap Jadaun.

Namun Jadaun bersama timnya bergeming. Mereka tetap mempertahankan posisi dan terus mendorong perusuh sampai pergi.

"Situasinya sangat berbahaya. Para perusuh bersenjata lengkap dan mereka tidak mendengarkan siapa pun. Saya menggambarkan mereka haus darah," ungkap Richi Kumar, seorang reporter harian Amar Ujala.

Dia menggambarkan keputusan Jadaun sebagai "tindakan paling berani" yang pernah dilihatnya.

Richi turut menceritakan para polisi dilempari batu dan ada kemungkinan polisi ditembak oleh perusuh, tapi Jadaun tidak mundur.

Kerusuhan ini pertama kali pecah di utara-timur Delhi, antara pengunjuk rasa yang menentang UU Kewarganegaraan India yang kontroversial.

Namun sejak itu situasi bertambah runyam dan mencekam. Jadaun mengatakan, para perusuh yang dia lihat bersiap menjalani pembakaran.

"Daerah itu memiliki banyak toko dengan stok bambu. Api akan menelan seluruh area kalau dibiarkan. Jumlah kematian di Delhi akan jauh lebih tinggi."

Walau tindakannya telah menyelamatkan nyawa orang lain, Jadaun enggan disebut pahlawan.

"Saya bukan pahlawan. Saya telah bersumpah untuk melindungi orang India yang dalam bahaya. Saya hanya menjalani tugas karena tidak mau membiarkan orang mati dalam pengawasan saya," lanjutnya.

Kerusuhan yang terjadi di India adalah dampak pro-kontra dari UU Kewarganegaraan India atau Citizenship Amendment Act (CAA).

UU ini memberi amnesti kepada imigran non-Muslim dari tiga negara mayoritas Muslim terdekat sesuai Afghanistan, Pakistan dan Bangladesh.

Perdana Menteri Narendra Modi menyangkal hal ini dan mengatakan bahwa dia hanya berusaha memberikan amnesti kepada minoritas yang dianiaya.

Namun hal itu diprotes oleh ratusan ribu orang di India baik umat Islam juga Hindu.

Mereka juga menjalani beberapa aksi sesuai duduk bersama di Shaheen Bagh di Delhi.

UU Kewarganegaraan India ini memberikan kewarganegaraan pada minoritas agama.

Pemerintah yang dipimpin Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) mengatakan akan memberi perlindungan kepada orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan agama.

Namun para kritikus meyakini bahwa UU Kewarganegaraan India adalah bagian dari upaya BJP untuk memarjinalisasikan umat Islam.



Total dibaca: 12x | Berikan Komentar!


Riko Satria
Penulis : Riko Satria
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (1)
Bram Dika Admaja
08 Apr 2021, 07:00 WIB

ikutan trending ya hehe

* Komentar telah dinonaktifkan untuk artikel ini *
Hosting Unlimited Indonesia