[CLOSE]
  • Rabu, 12 May 2021
  •  

Ternyata Cerita Warga Myanmar Rumahnya Dihantam Serangan Udara Militer

Ternyata Cerita Warga Myanmar Rumahnya Dihantam Serangan Udara Militer

Ternyata Cerita Warga Myanmar Rumahnya Dihantam Serangan Udara Militer (Cnn)

UmiCache.com - Warga Myanmar menceritakan pengalamannya ketika menghadapi serangan udara militer. Seorang warga mengatakan dia harus melewati hutan untuk mencari perawatan medis di seberang Thailand.

Naw Eh Tah (18), salah satu dari segelintir orang yang berhasil menyeberangi sungai Salween, meski kakinya terkoyak oleh pecahan peluru. Ia berjalan kaki selama sehari melalui hutan tropis yang lebat ke sungai untuk menyeberang.

"Kami menyeberang karena saya tidak dapat tinggal, tentara Myanmar semua berusaha menangkap kami," kata Naw kepada AFP di rumah sakit distrik Sop Moei di provinsi Mae Hong Son utara Thailand.

"Saya belum pernah melihat (serangan udara) sebelumnya. Saya sangat takut." Naw mengaku tidak mendengar pesawat itu, jika ia mendengarnya, ia akan lari. 

"Pada saat saya menyadari apa yang terjadi, ledakan menghantam atap rumah saya." "Ketika saya kena, saya tidak dapat berjalan saya harus memanjat untuk bersembunyi."

Anak remaja berusia 15 tahun yang turut menyeberang sungai, juga mengalami cedera parah dengan tulang rusuk patah dan paru-paru robek.

Saw Lab Bray (48) mengalami luka di sekujur tubuhnya saat dipukul di benteng KNU. "Saya mencoba melarikan diri tetapi bom dijatuhkan begitu cepat," katanya dari kursi roda rumah sakit.

Ia juga menggambarkan ketika melihat enam orang terluka dan seorang pria tewas. "Saya jatuh miring dan batuk darah. Saya takut karena saya tidak dapat lari, saya tidak dapat bergerak."

Salah satu dokter yang merawat korban luka-luka, Chakri Komsakorm mengatakan para pengungsi nampak telah melalui perang dengan banyak luka pecahan peluru yang sudah terinfeksi karena kekurangan orang.

Gubernur Sitthichai Jindaluang, Thailand Mae Hong Son mengatakan dalam konferensi pers, bahwa para pengungsi yang tidak terdampak pemboman setuju kembali ke Myanmar.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha mengatakan mereka tidak akan diancam dengan senjata atau tongkat. Mereka juga bersikeras tidak akan menolak para pengungsi jika situasinya memburuk.

Diketahui, serangan udara yang dilakukan militer Myanmar itu menargetkan wilayah yang dikuasai kelompok milisi SerikatNasional Karen (KNU) yang sebelumnya telah merebut pangkalan militer pada akhir pekan kemarin.

Akibat insiden itu, 3.000 orang kabur ke Thailand menghindari bentrok antara KNU dengan militer Myanmar.

Aksi protes menolak kudeta yang masih berlangsung di Myanmar membuat militer geram. Sehingga untuk memadamkan protes itu, mereka kerap menggunakan tindak kekerasan sesuai menembak pengunjuk rasa.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mencatat per Selasa (30/3) jumlah korban tewas hingga 521, dan warga sipil yang ditahan militer sebanyak 2.608 orang. (isa/dea)

Tulisan ini merupakan bagian dari kumpulan artikel dalam Fokus: “Gelombang Demo Antikudeta Myanmar”



Total dibaca: 17x | Berikan Komentar!


Riko Satria
Penulis : Riko Satria
No Internet No Life

Teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.

Komentar (0)
* Komentar telah dinonaktifkan untuk artikel ini *
Hosting Unlimited Indonesia